Selasa, 27 Mei 2014

Di Balik Sebuah Payung

Leave a Comment
Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuat kulitku hampir terbakar, jemuran pun sekejap kering. Bau asap-asap polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara bising kendaraan yang lalu lalang di hadapanku, membuat suasana bertambah pengap dan panas. Aku hanya bisa melihat orang-orang itu di dalam mobil dengan AC yang membuat mereka sejuk, berbeda dengan diriku anak laki-laki dengan baju kumalnya berdiri di tepi jalan sambil membawa payung di genggamannya, aku hanya bisa menunggu hujan turun dan seseorang datang untuk menggunakan jasaku.
Aku hanya seorang anak berusia 12 tahun yang hanya bisa bekerja. Aku tidak seperti anak seumuranku yang waktunya habis untuk bermain dan belajar. Kehidupan itu jauh sekali dalam hari-hariku, mana bisa aku hanya memikirkan diriku sendiri sedang keluargaku kelaparan. Hanya bekerja aku dapat menyambung hidupku dan keluargaku, aku mempunyai dua adik yang masih kecil-kecil, Bapakku sebulan yang lalu telah meninggal dunia karena tertimpa beton saat bekerja, sedang Ibu sekarang sakit-sakitan.
Sekarang akulah tulang punggung keluarga. Sudah begitu banyak pekerjaan yang kulakukan dari menyemir sepatu, mengamen, menjual Koran, menjual kue sampai menjadi tukang pengelap kaca mobil sudah pernah kulakoni. Tidak mudah memang, karena terkadang tubuhku babak balur dihajar anak-anak setempat yang menganggap aku merebut wilayah mereka, dan hanya menjadi ojek payunglah sekarang yang bisa kulakukan.
Terkadang karena begitu sulitnya aku mendapatkan uang, teman-temanku seperti Rojak mengajakku untuk menegemis saja, tapi aku bukanlah orang pemalas seperti itu. Bagiku mengemis adalah pekerjaan yang gila, bergantung dengan rasa kasian orang lain terhadap kita, lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Itu ungkapan Bapakku yang masih kuingat hingga kini.
Hari ini tidak ada tanda-tanda datangnya hujan, hujan adalah guyuran air dari langit, anugerah dari Allah bagiku, karena dengan begitu aku akan mendapatkan penghasilan. Di balik payung inilah kami menaruh harapan, di balik payung inilah tempat berlindung kami dari kejamnya kehidupan.
Biasanya tempatku mencari penghasilan adalah pusat perbelanjaan di Tanjung Karang atau pinggir jalan di kota Bandar Lampung ini. Yah, walaupun tidak sesusah Jakarta, bagiku ini suatu hal yang tidak ada bedanya. Sekarang kota Bandar Lampung pun sudah cukup padat dan sesak, banyak pendatang baru datang yang didominasi dari suku Jawa.
Sudah kutawarkan pada orang-orang di sekitarku, tapi tetap saja mereka lebih memilih becak dari pada ojek payungku. Sekarang aku hanya terduduk lemas di Halte sambil menunggu orang menggunakan jasaku, karena terlalu capeknya aku menunggu cacing di perutku sampai meronta-ronta ingin diisikan makanan. Dan sudah berkali-kali ku usapkan bajuku yang kumal ke wajahku, menghilangkan keringat yang terus-menerus mengalir, tapi tetap belum ada yang menggunakan jasaku.
Kulihat bus menurunkan orang-orang di Halte, kutawarkan mereka. Belum ada, belum ada yang mau menggunakan jasaku, terkadang aku malah di caci maki karena dikiranya aku ingin mencopet mereka.
“Nak, tunggu apa kau menyediakan jasa ojek payung?” Tanya seorang Ibu berbadan dua menepuk pundakku. Aku terkaget “hah, iya Ibu. Maaf Bu, Ibu mau diantarkan kemana dengan payungku ini?” tanyaku antusias.
“Antarkan Ibu ke Toko Buku seberang yah nak…” ucap Ibu itu dengan logat lampungnya yang kental.
“Baik Bu, aku akan antarkan Ibu ke tempat tujuan dengan selamat,” jawabku ceria.
Ku antarkan ibu itu hingga ke tempat tujuannya. Di sepanjang jalan Ia bertanya padaku mengapa aku tidak sekolah, ku jelaskan alasanku mementingkan bekerja dari pada sekolah. Saat kulihat wajahnya, matanya memerah mungkin karena ceritaku terlalu menyedihkan untuknya.
“Nak, kamu tolong tunggu disina yah, sampai Ibu selesai membeli buku, nanti ibu akan membayarmu lebih.”
“Baiklah Bu”.
Begitu senang aku, Ibu berbadan dua itu mau menggunakan ojek payungku lagi dan membayarku lebih.
Ibu itu terlihat seperti Ibu pejabat, pakaiannya terlihat mencolok ditambah perhiasan emas yang menghiasinya. Penampilan Ibu itu bisa meningkatkan hasrat para perampok. Aku bisa menebak Ibu itu berasal dari suku Lampung, dari logat bicara dan penampilannya mirip sekali dengan Ibunya Rojak, orang-orang suku Lampung memang paling senang bermegah-megahan dan sangat menjunjung tinggi harga diri, ini merupakan falsafah hidup mereka bisa disebut sebagai piil pesenggiri. Jika nanti Ibu itu sudah keluar akan ku peringati dia, agar tak dirampok orang.
Kutunggu Ia sambil duduk memandang orang-orang kaya itu keluar dari pusat perbelanjaan mengahabiskan uang dangan berbagai kantung belanjaan di tangannya. Begitu mudahnya mereka menhambur-hamburkan uang. Berbeda dengan diriku untuk membeli sekantung beras pun sangat sulit kudapatkan. Tapi tetap saja memiliki banyak uang dan jabatan yang tinggi belum bisa membuat mereka puas sampai-sampai harus mengambil hak orang lain saperti para koruptor, jika difikir-fikir beban pekerjan seperti kami ini lebih melelahkan dibandingkan dengan mereka.
“Hey, Piyung sedang apa kau disini, melamun sendirian seperti anak idiot” suara Rojak mengagetkanku.
“Hey Rojak, kau telah membuat lamunanku buyar, aku disini sedang menunggu seorang pelangganku keluar dari toko Buku ini.”
“Pasti pengasilanmu tidak sebesar diriku, hanya bermodalkan baju robek yang kumal dan sebuah balutan perban aku dapat menghasilkan banyak uang hari ini. Berhentilah bekerja seperti ini Piyung, pekerjaan itu tidak menjanjikan untukmu. Lihatlah aku bisa makan Seruit kesukaanku tiap hari, sampai bisa membirakan Nyaikku tapis, yang semua orang tau, harganya mahal.” ungkap Rojak angkuh.
“Takabur sekali kau ini, kau yang seharusnya berhenti dari pekerjaanmu menjadi pengemis, meminta belas kasian orang lain untuk sebuah kebohongan seperti mu. Ingat kata Pak Ustad Anwar pengemis itu pekerjaan yang paling tidak disukai Allah. Sadarlah teman lebih baik menjual jasa dari pada menjual kemunafikkan,” Jelasku pada Rojak.
“Kau ini, bicaramu ini seperti orang yang tahu banyak hal. Tahu apa kau tentang kemunafikkan, lagipula ini pekerjaan yang halal, karena kita kan tidak memaksa seseorang memberikan uang mereka. Merekalah yang memberikannya dengan Ikhlas, karena sudah menjadi kewajiban mereka untuk memberi kepada orang miskin seperti kita Piyung…”
“Sudahlah, jika memang kau tak mau aku nasehati, aku malas berdebat dengan mu Rojak, kau saja tidak bisa membedakan halal dan haram, suatu hari kau akan mengetahui pendapat mana yang paling benar.” keras kepala Rojak membuat ku malas, jika diteruskan bisa-bisa kami bertengkar.
“Yaelah piyung, tentu akulah yang paling benar sebab aku kan seorang anak sekolahan berbeda dengan dirimu yang tidak sekolah yang tingkatannya pastilah lebih tinggi dari mu.”
Suara Rojak menghentakkanku seperti itu kah dia meremehkanku. Dengan tenang ku balas dia, “Rojak tidak ada yang mau di dunia ini punya nasib sepertiku, walau aku berhenti sekolah sekarang, bukan berarti kau bisa meremehkanku seperti itu Jak, aku juga masih belajar walau dengan buku seadanya. Sudah pergilah sana, malas sekali aku berdebat denganmu hari ini.”
Kuacuhkan Rojak, pandanganku berpaling ke arah pintu masuk Toko Buku itu. Kulihat Ibu berbadan dua itu keluar dari toko buku sambil membawa begitu banyak bungkusan buku di tangannya, kusapa dia dengan senyum dan salam, Ia membalasanya dengan senyum mengembang di pipinya.
“Hey anak muda, bantulah aku membawakan belanjaanku ini dan antarkan aku sampai ke halte lagi yah, aku tak mau calon bayiku ini kepanasan,” seru Ibu berbadan dua itu padaku.
Dengan senang hati aku membawakan belanjaanya dan mengantarkannya sampai ke halte. Sesampainya di halte, Ibu berbadan dua dengan jilbab merah jambunya menyuruhku menungguinya sampai bus datang.
Ia mengeluarkan sebuah buku dari bungkusan yang Ia genggam sambil berkata, “Anak muda, ini kuberikan sebuah buku untukmu, aku harap buku ini berguna bagimu, buku ini akan memberikan banyak ilmu tentang kehidupanmu supaya hari-harimu tidak gelap.”
“Terimakasih banyak Bu, sekarang aku tidak terlalu membutuhkan buku, yang kubutuhkan adalah uang Bu, karena tanpa Uang kami tidak akan bisa menyambung hidup, maafkan saya Bu.”
“Astaghfirullah, saya hampir lupa, ini Uangnya.” kata Ibu itu sambil mengambil uang dari dompetnya.
“Terimkasih Bu, baiklah buku ini akan kukembalikan.”
“Jangan.. jangan kau kembalikan, ini untukmu, buku ini kuberikan padamu ikhlas, aku harap buku ini selalu memotivasimu untuk terus belajar walau kau sekarang tidak sekolah lagi.” Paksa Ibu itu pada ku.
Aku terima buku itu dengan senang hati, Ibu yang asli suku lampung ini terlihat sangat menjunjung tinggi Piil pesenggiri nya terutama Nemuh nyimah atau sifat ramah tamahnya, benar-benar terlihat. Ini menambah pesonanya.
“Ah.. aku lupa memberitahu Ibu itu tentang perhiasanya, semoga dia selalu dilindungi Allah SWT.”
Kulihat buku itu baik-baik, ku baca judul bukunya “Pelajari Kegagalan untuk Setiap Langkah Menuju Impian”, tak sabar aku untuk membuka buku itu, Judul bukunya saja sudah membuat aku ingin membacanya, cover bukunya juga menarik berwarna gelap di satu sisi dan sisi yang lain berwarna putih salju dan di tengah-tengahnya ada seorang anak berjalan dari sisi kegelapan menuju sisi putihnya melalui pelangi yang Indah.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat sambil membawa sekilo nasi dan sebatang Tempe untuk makan, sebenarnya aku juga ingin membelikan Ibu obat, tapi uangku saat ini tidak cukup. Aku hanya bisa membelikan ini saja, tapi walaupun begitu Allah sudah banyak memberikan kemudahan lewat Payung ini. Tak sabar rasanya ingin cepat sampai rumah, duduk berbarengan dengan adik-adikku dan Ibu, mereka pastilah sangat senang bisa makan nasi walau dengan tempe dan sambal, yang paling penting adalah kebersamaan dan kami tak perlu lagi menghutang pada Ibu warung.
Kuketuk pintu rumahku yang sudah terlihat bobrok karena termakan rayap. “Assalamu’alaikum.. Ibu, Rahma, Fatma, kakakmu pulang nih..” Jeritku dengan semangat.
Seorang anak berbadan mungil membukakan pintu, menjawab salamku dengan suara lembut. Dia Fatma adikku, umurnya masih 6 tahun. Dengan muka ceria dia menyambutku, Ibu dan Rahma menyambutku juga dengan hangat dan senang ketika aku membawa bahan makanan untuk di masak, kuserahkan semua bahan kepada Ibu. Ibu sangat terlihat pucat, tiap malam diam-diam aku selalu memperhatikan Ibu yang bersembunyi di dapur, karena tidak bisa tidur dengan penyakit asmanya. Dia tidak ingin melihat kami khawatir, sedih rasanya melihat Ibu seperti itu.
Tidak lama kami menunggu, masakan sudah tersedia di atas tikar lusuh, dengan senang hati dan rasa syukur kami memakannya dengan lahap walau hanya dengan secentong nasi, sepotong tempe dan sambal, rasa syukur kami pada Allah tidak akan berkurang. Saat kami lahap makanan itu, tiba-tiba tetesan air jatuh dari atas genting. Ternyata di luar hujan deras. Beginilah keadaan rumah kami, genting yang bocor dimana-mana, ruangan yang penuh sesak, dinding yang hanya terbuat dari geribik, lantai yang hanya dari tanah dan pasir, semua itu jauh sekali dari kenyamanan. Tapi kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, kenikmatan kami makan tidak akan bisa dinganggu hanya dengan sebuah kebocoran.
Ibuku selalu bilang, “Jangan kau palingkan wajahmu ke atas, tundukanlah selalu pandaganmu ke bawah maka kau akan selalu merasa bersyukur.” Yah.. benar aku mengerti maksudnya, saat kita melihat orang kaya maka kita akan selalu merasa kurang, tetapi ketika kita melihat orang-orang yang lebih susah dari kita, maka kita akan merasa lebih dan terus bersyukur. Akan kuingat selalu itu Ibu.
Ketika makananku sudah kuhabiskan, aku beranjak untuk mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat maghrib di mushola. Aku akan berdoa untuk selalu di jaga rasa syukur kami pada-Nya. Walau hujan, aku tidak akan mengurungkan niatku, karena aku selalu punya payung untuk berlindung dan tentunya Allah swt. Yang Maha Melindungi.
Selesai sholat maghrib, hujan masih terus turun. Niatku dalam hati ingin melanjutkan pekerjaanku sebagai jasa ojek payung, maka bergegaslah aku menuju pusat perbelanjaan di Jalan Kartini yang memang tidak jauh dari rumahku.
Saat di jalan tiba-tiba aku tersanduk batu besar, aku terjatuh, payungku terlempar, tubuhku terlumuri lumpur semua. Rasanya tubuhku tidak bisa bangun lagi, lemas sekali. Terlihat dari kejahuan sebuah motor dengan kecepatan tinggi mendekat ke arah ku, keadaan jalan sangat sepi dan gelap, lampu di jalanan juga Cuma seadanya, “tolong.. tolong..!!!” dengan sekuat tenaga aku berteriak, aku berusaha untuk bangun, dan menghentikan motor itu, tapi rasanya tubuhku sangat sulit untuk ditegakkan kembali.
Aku tidak ingin menyerah, aku ingin bisa melihat Ibu sembuh dari sakitnya. “Ya Allah hamba mohon kepadamu jangan ambil nyawa hamba sekarang, bagaimana dengan Ibu, Rahma dan Fatmah kalau aku meninggal, akulah satu-satunya tulang punggung mereka Ya Allah,” mohonku dalam hati pada Allah.
Motor itu sudah hampir dekat, tapi sepertinya motor itu semakin kencang dan “Aaaaaaaa…!!!”
Pelan-pelan kubuka mataku. Aku merasa heran, apa yang terjadi padaku. Ibu, Rahma dan Fatmah ada di sampingku sambil mengeluarkan air mata dan seorang yang terlihat seperti dokter sedang memeriksaku, apa mungkin aku ini berada di rumah sakit. Pelan-pelan ku buka mulutku dan kutanyakan pada Ibu apa yang sebenarnya menimpaku, kenapa semua terlihat bersedih, bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu malah keluar dari ruangan sambil menangis seperti orang yang ditinggal kekasihnya.
Tiba-tiba Adikku yang paling kecil Rahma, menjawab pertanyaanku, “Abang Piyung, Ibu menagis gara-gara tangan Abang tinggal setengah, Rahma bingung Bang, kemana tangan Abang yang setengahnya,” ucapnya polos.
“Apa.. tangan abang tinggal setengah..?” tanyaku balik sambil melihat ke arah tanganku, aku tersentak hebat dengan apa yang kulihat, tanganku yang sebelah kiri benar tinggal setengah. aku menjerit sejadi-jadinya, “Apa yang sebenarnya terjadi padaku Ya Allah, ujian ini amat besar bagiku, aku cacat sekarang, bagaimana nasib keluargaku, hanya akulah tulang punggung keluarga,” Ucapku dalam hati sambil menangis tak percaya dengan yang terjadi.
Lima hari sudah aku berada di rumah hanya diam dan pasrah atas keadaanku. Rasa putus asa selalu menyelimuti fikiranku, aku tidak mungkin mengojek payung lagi, payungku rusak parah karena kecelakaan kemarin. Keadaanku seperti ini membuat Ibu menggantikanku untuk bekerja memenuhi kebutuhan dan membayar hutang-hutang pembayaran rumah sakit ku.
Aku merasa hanya menyusahkan Ibu dan adik-adikku, padahal Ibu sedang sakit-sakitan, tapi harus bekerja keras untuk menghidupi kami dan merawatku.
Lamunanku tiba-tiba terhenti, sebuah buku terjatuh dari atas lemari, kuambil buku itu. Aku baru ingat buku itu di berikan oleh seorang Ibu berbandan dua beberapa hari yang lalu, dan aku belum sempat membacanya, kubuka buku itu lembar demi lembar.
Kuhabiskan dalam waktu semalam, kuhayati dalam-dalam kata demi kata dalam buku itu, ceritanya benar-benar mirip dengan apa yang kualami, akan tetapi di buku itu anak laki-laki lumpuh kedua kakinya, dan saat dia hampir putus asa dia justru menemukan potensinya lewat lukisan, kakinya memang lumpuh tapi tangannya tidak, Ia mencoba menggoreskan sisa-sisa cat tak terpakai di atas selembar kain, tidak disangka selembar lukisan itu membuahkan hasil, Ia bahkan bisa menyekolahkan kelima adik-adiknya hingga lulus SMA. Luar biasa, begitu besar semangtnya untuk bangkit kembali dari kegagalan. Putus asa yang selalu kufikirkan, jadi hilang. Dan digantikan dengan motivasi yang kuat sekarang.
“Tok.. tok.. tok.. Assalamu’alaikum Piyung.. Piyung..,” ketuk seseorang dari balik pintu.
“Aku Rojak Piyung, aku ngin menjengukmu. Bukakan pintu,” pinta Rojak padaku.
Kujawab salam Rojak dengan senyum dan mempersilakkannya masuk, rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat Rojak datang ke rumahku, aku takut dia memintaku hal yang aneh-aneh.
“Benar Kau ingin menjengukku, bukan ingin menghinaku kan Jak…?” tanyaku ragu.
“Ah.. jelas tidak dong, aku justru ingin memberitahu kabar gembira untukmu. Kabar gembira yang akan membantumu lepas dalam kesulitan dan kecacatan ini Piyung…” Ucapnya dengan nada menyindir.
“Baru saja kuucapkan. Kau sudah mulai menghinaku, kabar gembira apa memang..?” tanyaku heran.
“Begini yah Piyung, aku ingin mengajakmu bergabung untuk menghasilkan uang. Jika kita bergabung, tentulah kita akan mendapatkan banyak uang dengan mudah, dengan keadaan cacatmu yang sekarang, rasa kasihan orang-orang akan bertambah padamu, dan uang akan kita dapatkan tanpa harus susah-susah bekerja. Ini juga dapat membantu keuangan keluargamu Piyung, kau mau kan. Tawaran ini hanya satu kali semumur hidupmu, kau tidak boleh menyia-nyiakannya Piyung,” Jelas Rojak.
“Apa… kau ingin mengajakku bergabung untuk melakukan hal bodoh seperti itu, kau tahu kan Rojak. Aku memegang teguh perinsipku bahwa sampai mati pun tak sudi aku untuk melakukan hal serendah itu Rojak. Walau aku cacat, tapi masih bisa aku lakukan hal yang lebih bermanfaat daripada melakukan hal rendahan seperti itu. Pergi kau Jak, malas aku mendengarkan buyonanmu itu,” usir Piyung pada Rojak dengan muka memadam.
“Hey.. ada apa dengan mu, sombong sekali kau, kau fikir bisa apa kau dengan mengandalkan satu tanganmu Piyung. Oke, jika itu maumu aku tidak akan membantumu lagi Piyung.” Sentak Rojak.
“oke.. pergilah..!!!” usirku, aku kesal Rojak tidak henti-hentinya menghasutku untuk melakukan hal bodoh itu. Aku jadi merasa kasihan padanya jika orangtuanya tahu pekerjaannya ini, mungkin ia akan diusir. Aku tahu betul karakter orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi harga diri, pastilah mereka amat kecewa dengan Rojak. Aku berharap semoga Rojak di berikan petunjuk oleh-Nya.
Beberapa menit sesudah Rojak pergi, ada beberapa orang datang ke rumah sambil membawa sembako dan amplom berisikan uang, entah apa yang ingin dilakukan mereka. Mereka terus memujuk Ibuku dengan kata-kata manis, tapi beberapa detik setelah itu Ibu mengusirnya dengan menhardik mereka, “Simpan saja sembako dan uang itu, aku tidak ingin menukar keyakinanku dan imanku hanya dengan hal-hal seperti itu, Pergi dan jangan pernah kembali,” ucap Ibu kasar pada ketiga orang itu.
Aku mulai mengerti, ternyata orang-orang itu ingin menukarkan sembako dan uang itu kepada orang-orang susah seperti kami dengan agama yang mereka anut, memang sudah banyak warga di kampungku yang menjadi korban mereka, kebanyakan adalah orang miskin. Tentu saja mereka mau menukarkanya, karena mereka tidak mempunyai cukup iman untuk menghadapinya.
Dua godaan setan sudah kami hadapi hari ini dengan menolak nya, lebih baik mati kelaparan dari pada hidup dengan mempermainkan orang lain dan agama.
Aku bersyukur Ibu tidak terjerumus, aku pun akan berusaha semampuku untuk bangkit kembali, memperbaiki payungku dan membuat banyak kerajinan untuk dijual, semoga ini awal yang baik untuk mengubah nasib kami, dengan terus bermimpi dan berusaha bangun untuk mewujudkannya, aku yakin kami pasti bisa bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan ini.
Cerpen Karangan: Hesty Juwita Sari
Read More...

Senin, 26 Mei 2014

Cita-Cita Sang Boneka

Leave a Comment
Cita-cita adalah sebuah subtansi yang merupakan perwujudan dari apa yang seseorang inginkan di masa yang akan datang. Cita-cita datang dari hati nurani seseorang, mereka yang merasakan, mereka pula yang akan mengejarnya. Tanpa tekanan dari manapun — seharusnya.
Namun hal itu tak berlaku untukku. Seorang Finno Anderson — sang boneka yang dikendalikan sesuai ambisi orang lain, dan tak berhak memiliki cita-cita dari hati nurani. Seluruh tubuhku serasa diikat oleh benang-benang, lalu orang lain bertindak sebagai puppet master untuk mengendalikanku. Mengapa aku bisa bilang begitu?
Aku adalah anak tunggal dari pasangan suami-istri yang menjadi pemilik sebuah perusahaan multinasional ternama. Dan seperti ambisi para orangtua kebanyakan, anak-anak mereka kelak harus menjadi penerus mereka, harus berjalan di jalan yang telah mereka persiapkan dan sang anak tidak memiliki hak untuk mencari jalan hidupnya sendiri. Klasik.
Dan prinsip itulah yang orangtuaku terapkan kepada anak semata wayang mereka. Mereka selalu mengikatku dengan sederet aturan-aturan mereka. Mereka memberiku berbagai macam jenis kursus — yang mendukung untuk menjadi penerus mereka. Tanpa memperhatikan apakah anaknya sendiri mau atau tidak. Ironis kan?
Awalnya aku hanya menerima saja segala perlakuan mereka padaku. Awalnya aku hanya berpikir jika mereka ingin melakukan yang terbaik untukku. Namun lama-kelamaan mereka semakin mengekang kebebasanku. Dan aku semakin sulit untuk menentukan jalanku sendiri.
Aku melampiaskan perasaan tertekanku dengan melukiskan apa yang aku rasakan melalui kanvas. Dan hasilnya, selalu aku pajang di ruangan kosong yang memang menjadi tempatku menyendiri. Lalu suatu hari temanku datang berkunjung ke rumahku, dan ketika ia masuk ke kamarku, ia melihat kanvas lukisan yang belum selesai serta alat lukisku yang tergeletak begitu saja di kamarku.
“Itu lukisan buatanmu sendiri?” tanyanya sambil mengagumi apa yang ia lihat. Aku hanya tersenyum sebagai balasannya.
“Wah, lukisan ini keren, sungguh! Kau berbakat jadi Pelukis yang hebat nantinya. Kau tau, ketika aku melihat lukisanmu ini, aku bisa merasakan perasaan yang kau curahkan di dalamnya, jarang aku bisa menikmati lukisan seperti ini loh.” pujinya.
“Aku tak sehebat yang kau pikirkan kok.” ujarku “Dan menjadi pelukis? Dulu memang aku sempat menginginkannya, tapi kurasa itu mustahil untuk diwujudkan oleh boneka sepertiku, Rietta.” Kulihat Henrietta sedikit terkejut dengan apa yang kuucapkan. Lalu ia pun menatapku, “Setiap orang punya hak untuk mempunyai cita-cita juga impian yang bisa ia wujudkan.”
Sejujurnya aku masih ragu dengan diriku sendiri. Bolehkah seorang boneka sepertiku mempunyai cita-cita? Bolehkah aku menentukan jalanku, sedangkan aku adalah boneka tanpa ambisi. Aku hanyalah sebuah boneka yang diharuskan menjalani peran yang telah diatur oleh pemilikku.
“Kau ini manusia, Finno. Kau berhak menentukan cita-citamu sendiri. Tak seorang pun bisa menghalangimu. Jika kau dapat berjalan di atas cita-cita dan kehendakmu sendiri, percaya padaku, itu adalah hal yang terhebat!” Lalu Rietta menepuk pundakku “Makanya ada pepatah ‘Gapailah cita-citamu setinggi langit’ kan?” ujarnya tersenyum.
Perlahan, kepercayaan diriku mulai bangkit, mengalahkan sikap pesimis yang bersemayam dalam diriku selama ini. Ya, Finno Anderson mencoba menjadi sebuah boneka yang bisa berjalan dengan kakinya sendiri.
Tapi seperti yang kalian ketahui, sang boneka tetaplah mempunyai seorang pemilik. Dan sang pemilik takkan mau bonekanya berjalan tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Hal itu juga terjadi padaku. Ketika aku mengutarakan keinginanku untuk mendalami seni lukis. Orangtuaku tak menyetujuinya.
“Tak ada karier yang prospek dalam bidang lukis”
“Lebih baik kau meneruskan perusahaan orangtuamu ini, maka kau tak perlu repot-repot memikirkan masa depan kariermu. Kau hanya tinggal belajar menjadi seorang penerus, cukup dengarkan apa yang kami katakan padamu!”
Ucapan mereka terus terngiang di pikiranku. Mendengarnya, semakin meyakinkanku jika kedua orangtuaku hanya menganggapku sebagai boneka yang digerakkan untuk memeuhi keinginan mereka. Apa mereka menganggapku sebagai anak mereka? Mungkin tidak.
“Aku ingin membuktikan pada mereka. Bahwa aku bukan boneka yang bisa mereka gerakkan seenaknya. Aku harus bisa lepas dari kendali mereka, bagaimanapun caranya.” Lalu aku mencoba itu menyusun sebuah rencana untuk mencapai apa yang kuinginkan.
Kutorehkan berbagai warna di atas kanvas, mengikuti alur sketsa yang telah kubuat sebelumnya. Dan kuulangi langkah tersebut terus menerus hingga membentuk sebuah gambar di kanvas tersebut. Aku tersenyum ketika melihat karyaku yang baru selesai kubuat. Adalah gambar seekor kupu-kupu yang hinggap di tangan seorang wanita, yang terlihat di atas kanvasku. Terlihat sang wanita mengagumi kupu-kupu tersebut. Wanita tersebut diibaratkan seperti seseorang yang terkekang dan tak bisa bebas, dan iri melihat kupu-kupu tersebut bisa terbang dan hinggap dimana pun yang diinginkannya.
‘Kupu-kupu, lambang kebebasan, hal yang mungkin tidak dipunyai sang wanita.’ batinku. Lukisan tersebut mengingatkan pada diriku sendiri, hmm…
Lukisan ini akan kukirim ke Italia untuk diikutkan dalam pameran seni dunia yang diadakan oleh negara tersebut. Pameran seni tersebut menggunakan konsep ‘Arti Kebebasan’ sebagai tema utamanya. Diriku yang pada saat itu tertarik dengan pameran tersebut mencoba mengirimkan satu lukisanku ke sana. Tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku tentunya.
“Yup, waktunya dipaketkan!” lalu aku bergegas keluar kamar dan mulai menyiapkan apa yang kuperlukan.
Sebulan kemudian, sepucuk surat dimasukkan ke dalam kotak pos rumahku. Kemudian aku pun mulai membuka dan membaca isinya. Dan aku membaca sebuah alinea yang membuatku tak berhenti untuk tersenyum sumringah.
‘Selamat, Karya Mr. Finno Anderson telah terpilih sebagai Karya Terbaik dalam Festival Seni Dunia 20xx yang dilaksanakan di Venesia, Italy.’
Tuhan, apa aku bermimpi? Apa yang kumimpikan semalam? Aku mencoba menampar pipiku, memastikan ini hanyalah mimpi. “—ouch” erangku kemudian. Sayangnya aku sedang ada di dunia nyata. Aku tak tahu apa yang Tuhan rencanakan untukku. Tapi aku percaya, hal ini adalah awal bagiku untuk menggapai cita-cita yang kuinginkan. Dan menjadi boneka bernyawa yang berjalan dengan langkahnya sendiri.
Aku tak bisa berhenti bersyukur dan tersenyum untuk itu.
6 tahun kemudian…
“Mr. Anderson, jadwal anda bulan ini meluncurkan karya anda dalam Pameran seni di Helsinki dan Paris…” Asistenku membacakan jadwal yang harus kulaksanakan dalam waktu sebulan, dan aku harus menyiapkan 2 lukisanku untuk dipamerkan di sana.
“Terima kasih, Paula.” ucapku berterimakasih, lalu dibalasnya dengan anggukan singkat. Kemudian aku izin padanya untuk beristirahat sejenak di kafe yang ada di dekat sini. Menemui seseorang.
Kini aku dapat mencapai cita-citaku sebagai pelukis yang diakui dunia di usia yang masih cukup muda, 23 tahun. Semenjak prestasi yang kudapatkan di pameran seni di Italia dahulu, aku semakin bersemangat untuk berkembang dan mengirimkan karyaku di berbagai festival dan pameran. Semakin banyak para kolektor yang mengenal karyaku dan membelinya, dari hasil penjualan tersebut kugunakan untuk membiayai kehidupanku.
Bagaimana degan orangtuaku? Mereka tetap berusaha untuk melarangku pada awalnya. Namun, aku tetap teguh dengan apa yang kuperjuangkan. Perlahan mereka mulai mengerti dan mengatakan padaku jika aku bebas untuk menentukan jalanku sendiri. Sungguh melepaskan diri dari aturan dan kekangan orangtuaku adalah hal yang sangat membahagiakan. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini.
Sesampainya aku di kafe, Seorang wanita bersurai pirang dan bermanik biru safir menyapaku dan memberiku senyuman. Aku bergegas menuju mejanya dan duduk di kursi kosong di depannya.
“Jadi kau sudah menjadi boneka yang ‘bernyawa’, Finno.” Henrietta mulai membuka pembicaraan sambil menatap manik violet milikku. Aku memberinya anggukan pelan.
“Jika kau tak memberiku motivasi waktu itu, aku tak akan menjadi diriku yang sekarang, dengan berjalan di kehidupanku sendiri, Rietta.” sahutku. Lalu Henrietta tertawa pelan. “Aku bosan saja melihatmu yang seperti boneka hidup saat itu, dan kau juga sahabatku. Sudah sewajarnya aku membantumu, kawan.”
Lalu kami tersenyum, menikmati hidangan yang tersaji dan menikmati waktu kami bersama dengan damai…
— Cita-cita adalah hak setiap manusia, dan akan terwujud apabila kamu mempunyai tekad untuk meraihnya — Finno Anderson
Cerpen Karangan: Finsa Permatasari
Read More...

Minggu, 25 Mei 2014

Dia Ibuku

Leave a Comment
Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna hijau lumut dan melamun disana. Melipat kedua kaki di dada dan memeluknya erat. Ku goyangngkan tubuh ke depan dan ke belakang. Aku yakin bila ada seseorang yang melihatku pasti akan mengira aku sedang ditiup angin. Hal itu di karena tubuhku yang kurus dan kecil. Bolehkah aku menggantinya dengan kata imut? Kata ‘kecil’ rasanya terlalu tidak aku sukai untuk sebutan fisikku.
Kembali ke cerita awal bagaimana aku bisa terdampar di atas genteng dan memandangi sekumpulan wanita disana yang mengelilingi gerobak si Mamang penjual sayur keliling di desaku. Aku melihat mereka tertawa, dan suara yang paling aku kenali adalah suara ibuku. Yah, beliau disana berkumpul dengan teman-temannya dan bergosip. Membicarakan masalah suami-suami mereka atau membicarakan anak-anak mereka. Saling menebar kesombongan dan keangkuhan. Aku benci saat-saat seperti itu. Aku benar-benar benci, karena ajang pamer kehebatan masing-masing akan membawa dampak bagiku.
Bagaimana caranya?
Ku beritahu kau, itulah alasan aku berada di genteng dengan wajah sembab. Aku memang habis menangis. Kesedihan yang wajar dirasakan oleh seorang anak saat Ibu kandungnya sendiri selalu membandingkan diriku dengan anak-anak perempuan seusiaku. Aku mengusap kembali air mataku yang ku paksakan berhenti tapi malah berakhir makin deras jatuhnya. Sepertinya pelupuk mataku pun tidak sanggup menahan sakit hatiku. Nyeri sekaligus sesak yang sulit aku ungkapkan di dadaku yang sulit untuk diungkapkan. Aku tetap menahan tangis agar tidak ada satu orang pun yang di bawah sana melihat ke atas dan menemukanku sedang menangis.
“Hei dara!”
Seseorang menepuk pundakku halus. Aku tidak perlu menoleh kepadanya, karena orang tersebut langsung mengambil tempat di sisi kananku tanpa meminta izin.
“Kau bertengkar lagi dengan ibu?” Ia bertanya padaku dengan lembut. Melihat caranya memperlakukanku, aku tahu ia mengerti perasaanku. Perasaannya cukup peka untuk seorang kakak laki-laki.
Aku malah menyembunyikan wajahku dalam lipatan kakiku. Tangisanku semakin kencang dan guncangan bahuku pun makin tidak terkendalikan.
“Ayolah, ceritakan padaku.”
“Aku benci ibu, Kak.” Isakku. Aku tahu kalimatku terlalu mengejutkan. Di saat seluruh anak mencintai ibunya, aku malah membenci ibuku.
Kakakku tidak membantah. Ia ingin aku meneruskan ceritaku maka itu yang aku lakukan.
“Ibu menyuruhku membuat sambal lado ikan untuk makan siang kita…” AKu berhenti sebentar untuk menarik ingusku yang lolos dari lubang hidungku yang mancung, “Aku lupa menambahkan bawang merah saat aku giling. Aku benar-benar lupa kak, tapi ibu menyalahkan aku seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar. Ia mulai membandingkan aku dengan Rina yang jago memasak, dan tidak segan-segan ibu menyebutku ceroboh dan bodoh.” Saat mengucapkan kata-kata terakhir, hatiku tertohok kembali. Aku benar-benar mengingat dengan jelas ucapan ibu yang tajam menyayat hatiku. Sangat luar biasa sakit. Dadaku sesak, menahan tangis yang akan keluar lagi.
“Lalu?”
“Aku berlari keluar dari dapur dan disini aku berada. Menjauhi rumah dan menjauhi ibu.”
Kakakku menarik nafas dalam-dalam. Ia meluruskan kakinya di atas genteng. Menatap lurus pada sekumpulan wanita disana.
“Aku paham rasa sakit hatimu. Tapi maukah kau juga berpikir dari posisi ibu?”
“Berpikir apa? Berpikir bagaimana setiap kata dapat melukai hati anakknya? Itu yang kau mau untuk aku pikirkan?”
“Pikirkan alasan ibu mengucapkan kalimat itu. Apakah kau pernah berpikir bahwa ibu kelelahan setelah menyiapkan keperluan kita. Belum lagi Ifa menangis terus dari tadi. Ibu hanya kebingungan.”
“Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan buat Ibu untuk berhak mengataiku Kak.”
“Aku hanya ingin memberi saran padamu. Aku tidak membenarkan sifat Ibu dan aku juga tidak ingin menyalahkan Ibu, tapi pikirkan ini: Sakit mana saat Ibu berusaha melahirkanmu dengan sakit hatimu saat ibu khilaf memarahimu?”
Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus menjawab apa, semua kata-kata pembelaan bagiku hilang semuanya. Sakit saat ibu melahirkanku mungkin memang tidak ada tandingannya. Aku pernah membantu Ibu Nani — bidan kampung — saat ia membantu persalinan Ibu Wijaya. Aku pikir beliau akan meninggal, melihat nafasnya yang putus-putus dan keringat yang mengalir deras. Bahkan aku terkesiap saat Ibu Wijaya sempat kehilangan kesadaran. Bodoh sekali aku melupakan moment beharga itu. Bodoh sekali…
“kau tidak perlu menjawabnnya. AKu hanya ingin kau merenunginya.”
Setelah kalimat terakhir kakakku itu, aku memang tidak banyak berkata apa-apa lagi. AKu hanya mengamati Ibuku yang masih saja berbelanja, padahal ibu-ibu yang lain sudah pergi. Ku lihat wajah Ibuku kecewa dan ia berbalik meninggalkan si mamang yang sudah mendorong gerobak sayurnya.
Saat ia berjalan kembali ke rumah, matanya melirik ke atas dan ia melihatku.
“Joe, apa yang kau lakukan pada adikmu hah?” Ibuku berteriak dari bawah agar suaranya sampai pada kami.
“Cuma cari angin Bu. Dara ingin berjemur biar kulitnya bertambah hitam.”
AKu memukul kakakku keras. Ia sangat suka menggodaku, tapi aku bersyukur ia tidak memberi tahu ibu kalau aku baru saja menangis.
“Sudahlah. Kalian turun ya. Ibu akan membuat sayur asam.”
“Sayur asam?” pekikku.
Ibuku tersenyum, “Iya, tapi ayamnya habis sayang. Jadi ibu hanya membeli tempe untuk lauknya.” Dan kini aku tahu kenapa wajah ibuku terlihat kecewa tadi. Ayam kesukaanku telah habis.
Sayur asam ibuku adalah makanan favorit ku. Biasanya Ibu selalu menggoreng ayam untuk lauknya, tapi tempe pun tidak apa, yang penting masakan ibu.
“Tidak apa-apa Bu. Sayur asam saja sudah cukup. AKu akan turun sekarang.”
Aku berlari turun dan langsung menuju pintu depan. Aku membawa kantung belanjaan ibu dan membawanya ke dapur.
kakakku yang rupanya mengikuti jejakku untuk turun dari genteng pun tiba di dapur. Ia memandangi kami dengan wajah yang sumringah.
“Ada yang perlu ku bantu?” Ia menawarkan bantuannya.
“Sudahlah kakak. kau di luar saja. Memasak adalah urusan wanita. Iya kan Bu?” AKu meminta pembelaan dari ibuku.
Ibu ku tidak menjawab. ia cukup tersenyum yang ku artikan sebagai jawaban ‘Ya’
“jangan sampai gosong ya.” Goda kakakku.
Ia pun berhasil menghindari pukulanku. Dia adalah kakakku, kakak yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Dan wanita yang berdiri disana adalah ibuku. Ya dia ibuku, apapun yang terjadi ia tetap ibuku.
‘Maafkan aku Bu.’ Ucapku dalam hati
Cerpen Karangan: Neneng Lestari
Read More...