Aku memiliki teman-teman yang ramah, sopan dan baik hati. Mereka bernama Bunga, Nurul, Dewa, Hassa, Tia dan Tifal. Mereka anak-anak yang pintar di bidangnya, mereka sering mendapat peringkat 10 besar. Bunga selalu mendapat nilai tinggi di pelajaran olah raga, Dewa selalu peringkat nomor 1, Tia pintar di bidang sejarah, Tifal itu cantik dan sering masuk 10 besar, Hassa dan Nurul pintar dalam bidang agama.
Kami akrab seakrab saudara, kami sering menikmati makan bersama saat istirahat dan pergi ke perpustakaan saat istirahat. Kami saling berbagi makanan, ilmu pengetahuan, minuman, dan buku perpustakaan yang menarik yang telah kami baca.
Kami akrab seakrab saudara, kami sering menikmati makan bersama saat istirahat dan pergi ke perpustakaan saat istirahat. Kami saling berbagi makanan, ilmu pengetahuan, minuman, dan buku perpustakaan yang menarik yang telah kami baca.
Nama ku Dewi Sandra, mereka memanggilku Sandra. Umurku dua belas tahun tapi aku bukan yang paling tua di antara mereka. Aku juga termasuk anak pintar, mereka bilang aku jagonya matematika. Karena aku dapat mengotak-atik rumus matematika.
Cerita cinta ku berawal dari suatu hari kami pergi ke perpustakaan, aku baru sadar kedatangan adik kelas yang kece. Ia membawa buku cerita, ia membaca buku bersama teman-temannya di lorong perpustakaan. Wajahnya seperti artis bintang film.
Aku menatapnya bagai singa yang mengincar mangsa. Dia pendek, kulit sawo matang, pakaian rapi, senyum manis semanis gula jawa.
Aku menatapnya bagai singa yang mengincar mangsa. Dia pendek, kulit sawo matang, pakaian rapi, senyum manis semanis gula jawa.
Bel berbunyi, pagi itu aku mencarinya. Aku bertemu dia saat di kantin, aku berusaha mengobrol dengannya. Tapi sayang aku gengsi tinggi dan malu. Teman-teman ku memberi semangat agar aku selalu optimis, dan meninggalkan sifat pesimisku.
“Tenang Sandra ini mudah. Kamu hanya perlu menyapanya. Toh, dia lagi sendiri dan di sini suasananya sepi.” Aku berusaha meyakinkan diriku.
Entah apa yang aku pikirkan, atau kakiku yang memiliki nyawa. Aku sudah berada di depannya, dan dia sedang memandangiku penuh keheranan.
“Hai, Dek. Kamu sendirian? Atau kamu lagi nungguin temen mu. Km sering di perpustakaan?”
“Aku gak nungguin siapa-siapa. Emang aku sering di perpus. Kakak juga sering di perpus dan kakak juga lagi sendirian.”
“Aku sih emang lagi nyari temen-temen ku. Kamu kelas berapa dek?”
“Aku kelas empat. Namaku Bagas!”
Aku serasa nuklir yang meledak di kota Hirosima dan Nagasaki dan aku jadi salah tingkah pokoknya grogi abis…
“TOTTT… TOTTT…” bel berbunyi
“Eh, dah bel kamu masuk kelas sana! Aku juga mau masuk kelas kok.”
“Tenang Sandra ini mudah. Kamu hanya perlu menyapanya. Toh, dia lagi sendiri dan di sini suasananya sepi.” Aku berusaha meyakinkan diriku.
Entah apa yang aku pikirkan, atau kakiku yang memiliki nyawa. Aku sudah berada di depannya, dan dia sedang memandangiku penuh keheranan.
“Hai, Dek. Kamu sendirian? Atau kamu lagi nungguin temen mu. Km sering di perpustakaan?”
“Aku gak nungguin siapa-siapa. Emang aku sering di perpus. Kakak juga sering di perpus dan kakak juga lagi sendirian.”
“Aku sih emang lagi nyari temen-temen ku. Kamu kelas berapa dek?”
“Aku kelas empat. Namaku Bagas!”
Aku serasa nuklir yang meledak di kota Hirosima dan Nagasaki dan aku jadi salah tingkah pokoknya grogi abis…
“TOTTT… TOTTT…” bel berbunyi
“Eh, dah bel kamu masuk kelas sana! Aku juga mau masuk kelas kok.”
Aku menaiki tangga dengan hati yang berbunga-bunga. Aku dan bagas sudah akrab, kami sering bertemu dan mengobrol di perpustakaan. Istirahat ke-2 aku dan dia bercanda tawa. Jam ke-3 dan ke-4, aku bertemu dia di lapangan yang sering digunakan olahraga, bermain, apel pagi, dan upacara. Bagas duduk sendirian di bawah dekat tangga, dari kelihatannya ia capek.
“Bagas… Kamu capek ya olahraga?”
“Enggak.”
“Kamu haus? Atau laper?”
“Gak haus. Gak terlalu laper”
“Mau aku belikan minum atau makanan?”
“Gak usah. Aku udah bawa minum dan makanan.”
“Yakin?”
Ia tersenyum dan memberi isyarat.
“Bagas… Kamu capek ya olahraga?”
“Enggak.”
“Kamu haus? Atau laper?”
“Gak haus. Gak terlalu laper”
“Mau aku belikan minum atau makanan?”
“Gak usah. Aku udah bawa minum dan makanan.”
“Yakin?”
Ia tersenyum dan memberi isyarat.
Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan. Rasa cinta ku padanya semakin tumbuh. Tumbuh besar sebesar pohon jati di kalimantan.
Apa dia tau jika aku suka padanya? Apa dia mengganggapku anggin yang berlalu? Atau hanyak sebatas teman?
Apa dia tau jika aku suka padanya? Apa dia mengganggapku anggin yang berlalu? Atau hanyak sebatas teman?
“Hai kak? Kenapa mukanya berlipat-lipat?”
“Eh, siapa yang mukanya berlipat?”
“Capek ya kakak?”
“Iya. Capek banget aku.”
“Tunggu disini sebentar…” Kata Bagas sambil berlari.
“Nih kakak. Beng-beng nya ada dua, satu buat kakak satu buat aku. Adil toh?”
“Makasih Bagas. Kamu baik and ganteng deh”
Seresa roket lepas landas dengan kecepatan cahaya menuju tempet yang entah beranta dan meletus menjadi serpihan-serpihan kecil.
“Eh, siapa yang mukanya berlipat?”
“Capek ya kakak?”
“Iya. Capek banget aku.”
“Tunggu disini sebentar…” Kata Bagas sambil berlari.
“Nih kakak. Beng-beng nya ada dua, satu buat kakak satu buat aku. Adil toh?”
“Makasih Bagas. Kamu baik and ganteng deh”
Seresa roket lepas landas dengan kecepatan cahaya menuju tempet yang entah beranta dan meletus menjadi serpihan-serpihan kecil.
“alah bilang gitu nek di kasih. Nek enggak?” kata temen ku, dia sih benci aku.
“Dasar kabel pedot. Gak dikasih apa pun gue juga bakal bilang BAGAS LOE GANTENG DAN BAIK HATI…” tapi apa hal? Kata-kata ku hanya sampai ujung tenggorokan. Yah, itu kata dari hati ku yang paling dalam.
“Kakak jangan bengong. Dimakan kak beng-bengnya. Aku gak genteng.”
“Terlalu ngerendahin diri.”
Ia lalu diam seribu bahasa hanya senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
“Dasar kabel pedot. Gak dikasih apa pun gue juga bakal bilang BAGAS LOE GANTENG DAN BAIK HATI…” tapi apa hal? Kata-kata ku hanya sampai ujung tenggorokan. Yah, itu kata dari hati ku yang paling dalam.
“Kakak jangan bengong. Dimakan kak beng-bengnya. Aku gak genteng.”
“Terlalu ngerendahin diri.”
Ia lalu diam seribu bahasa hanya senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
Akhir-akhir ini aku jarang ketemu dia. Aku sering menghabiskan waktu ku untuk bercanda dengan teman-teman cowok. Tak sengaja aku melihat Bagas. Ia melihat kelasku harusnya ia sudah pulang dia belum ada les. Tapi untuk kelas enam SD hari itu ada tambahan.
“Kamu ngapain?”
“Gak ngapa-ngappain kakak. Aku nunggu kakak. Pengen ngobrol aja. Kakak sekarang sibuk. Gak da waktu deh buat main.”
“iya maaf aku kelas enam. Bentar lagi mau UN. Aku kan harus konsentrasi ke UN”
“kakak aku lagi nabung lo… buat beli sepeda. Ya, walau belom banyak uangnya. Besok mau ditambahi sama orangtua ku.”
“nek gitu aku bakal ngasih hadiah nek kamu masuk 15 besar di kelas.”
“cie… yang lagi asik pacaran.” Kata Tia
“Kita aja gak pernah dikasih apa-apa.” Lanjut Dew.
“eh, bu Minah dah masuk lo… ayo masuk!” kata hassa
“Duluan Gas!”
Itu adalah terakhir kali aku bertemu dan mengobrol dengan nya.
“Gak ngapa-ngappain kakak. Aku nunggu kakak. Pengen ngobrol aja. Kakak sekarang sibuk. Gak da waktu deh buat main.”
“iya maaf aku kelas enam. Bentar lagi mau UN. Aku kan harus konsentrasi ke UN”
“kakak aku lagi nabung lo… buat beli sepeda. Ya, walau belom banyak uangnya. Besok mau ditambahi sama orangtua ku.”
“nek gitu aku bakal ngasih hadiah nek kamu masuk 15 besar di kelas.”
“cie… yang lagi asik pacaran.” Kata Tia
“Kita aja gak pernah dikasih apa-apa.” Lanjut Dew.
“eh, bu Minah dah masuk lo… ayo masuk!” kata hassa
“Duluan Gas!”
Itu adalah terakhir kali aku bertemu dan mengobrol dengan nya.
2 tahun kemudian aku teringat ia kembali, karena teman ku ada yang bernama bagas. Namun beda 180 derajat. Jika kau tau aku merindukan obrolan kita yang dulu. Entah kenapa aku sering melihat orang sepertimu menggunakan sepeda berkacamata. Apa aku terlalu memikirkan mu? Aku takkan melupakan mu. Jika kau aku merindukan kehadiran senyum hangat mu. Aku berharap aku dapat bertemu kamu kembali.
Cerpen Karangan: Dewi Sarah